20131106-184053.jpg

Hari Minggu pagi (3 November 2013), tepat pukul 07.00 saya terbangun dengan mood yang sangat bersahabat karena malam yang menyenangkan di konser Float2Nature. Begitu melangkahkan kaki ke luar tenda, udara sejuk langsung menyapa. Kabut tipis masih menggantung di kejauhan, namun matahari sudah berdiri gagah. Selain ramai oleh suara burung, aktivitas para pegawai Tanakita Rakata yang sibuk menyiapkan kopi, teh, dan sarapan juga turut menyemarakkan pagi itu. Ditambah suara teduh John Denver sayup-sayup mengalun dari pengeras suara di area makan, rasanya sedih membayangkan bahwa saya akan meninggalkan tempat ini nanti siang.

image

Usai sarapan dengan nasi goreng putih, telur mata sapi, mie goreng dan emping sambil menikmati pemandangan lembah di taman nasional ini, terdengar dari pengeras suara pengumuman untuk aktivitas pagi itu. Kali ini saya memilih trekking ke Danau Situ Gunung dan menguji nyali di aktivitas high rope + flying fox.
image

Perjalanan ke danau memakan waktu setengah jam berjalan kaki dengan medan yang cukup ringan. Saya beruntung karena tak sengaja berada di satu rombongan dengan personel Payung Teduh. And they’re quite fun and silly. Saya mendapatkan beberapa fakta menarik tentang personel Payung Teduh dari obrolan kami sepanjang perjalanan: 1. Is, sang vokalis, ternyata penggemar berat Studio Ghibli (me too!); 2. Comi, sang basis, adalah dosen Sastra Inggris di Bina Nusantara.

20131106-184802.jpg

Anyway, danau Situ Gunung ternyata tidak begitu besar, dan tidak senatural yang saya bayangkan, karena rupanya tepian danau ini sudah disemen, dan sudah banyak tempat-tempat untuk duduk-duduk dan berjualan. Tipikal danau wisata di Indonesia. Namun tetap saja lingkungan sekitar danau ini bersih dan pemandangannya menyejukkan.
image

Di kejauhan saya melihat ada Banda Neira sedang asyik nge-jam di tepi danau dikelilingi oleh beberapa peserta Float2Nature lainnya. I don’t know whether Rara and Ananda are dating each other or not, but this quirky couple are so romantic. For a brief moment I kinda wished I’d been there with someone special, hahaha… #curhat

20131106-184415.jpg

Lokasi high-rope dan flying fox ada di rute perjalanan pulang menuju tenda. Saya adalah orang yang suka naik pesawat, tapi selalu gemetaran kalau berdiri di pembatas mall di lantai tertinggi. Itulah mengapa saya merasa perlu untuk menantang diri saya di dua aktivitas outbound ini. Begitu antusias, saya mendaftar di giliran kedua. Setelah mengenakan helm dan perangkat keamanan lainnya, saya mulai menaiki tangga menuju lokasi high rope, di mana saya harus berjalan meniti papan selebar 10cm yang tak hentinya bergoyang dan hanya berpegangan di dua utas tali tambang. Jarak yang harus saya tempuh memang “hanya” 50m, namun jarak ke tanah lumayan tinggi. Di pertengahan, kaki saya mulai bergetar hebat dan rasa panik menyeruak. I seriously wanted to scream out loud. Sang penjaga di ujung akhir titian rupanya melihat saya melemah, dia lantas berteriak, “Jangan lihat ke bawah, ke depan saja! Lihat sini!” Dan saya pun memberanikan diri melangkah dengan lebih cepat. What’s the worst that could happened? Paling saya jatuh bergelantungan di antara pepohonan. Begitu menjejakkan kaki di pos kedua (pos flying fox), saya langsung memeluk pohon. Dari pos ini perjuangan masih berlanjut, yaitu flying fox. But somehow saya tidak begitu khawatir dengan yang satu ini. Dan betul saja, begitu meluncur rasanya senang sekali. I felt so free. Pasrah mengikuti arah luncuran. Hasilnya? Begitu mendarat, saya langsung mengatakan pada tim Rakata Adventure, “Saya mau highrope dan flying fox sekali lagi!”

20131106-184227.jpg

Lelah bermain, kami kembali ke campsite untuk bersih-bersih, packing, dan makan siang. Di wajah semua orang kelihatan sekali bahwa mereka masih ingin lama berada di tempat ini. Tapi apa boleh buat. Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang…. Saatnya pulang. Setelah foto bersama dan saling tukar menukar kontak untuk sharing foto (it’s a must!), akhirnya para peserta pun berpisah. Dan pastinya, semua tak sabar untuk ikut kembali di Float2Nature 2014 nanti, yang kabarnya akan berlokasi di tempat yang sama sekali tak terduga.

image

20131106-185311.jpg

20131106-184607.jpg

20131106-185358.jpg

When was the last time you disappeared? Itulah tagline acara Float2Nature 2013 yang diadakan di Tanakita Rakata Campsite yang berlokasi di area Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Sukabumi. Ya, urusan pekerjaan yang tak ada habisnya, kemacetan di jalan yang kian menjadi, serta hiruk pikuknya ibukota pasti membuat kita ingin kabur sejenak dan menghilang ke tempat yang tenang dan sejuk. Dan saya merasa cukup beruntung karena berkesempatan untuk “menghilang” ke alam nan hijau selama dua hari (2-3 November silam) bersama dengan dua band Indonesia yang paling saya sukai, Float dan Payung Teduh.

Sabtu dini hari pukul tiga saya sudah standby di Seven Eleven Pasar Festival Jakarta dengan penuh semangat. Saking semangatnya, malam itu saya belum tidur sama sekali. Menurut itinerary, harusnya jam 04.30 saya dan rombongan harusnya sudah bergerak menuju Sukabumi. Namun karena satu dan lain hal, kami baru bisa berangkat tepat pukul 06.00 WIB. Saya ikut di mobil salah satu panitia, Asra, yang berkonvoi dengan bis peserta (sekitar 150 orang), dan mobil para pengisi acara: Payung Teduh dan Banda Neira.

Sekitar 4,5 jam kemudian, setelah melalui macet hebat di Ciawi, Cicurug, dan Cibadak, serta jalanan menanjak yang bolong-bolong, tibalah kami di Tanakita Rakata Campsite. The place was simply breathtaking. Warna hijau dan langit biru ada di sejauh mata memandang. Memasuki area campsite pun semakin membuat saya berdecak kagum. The tents were so cool… Rasanya seperti melihat postingan-postingan di Tumblr atau Pinterest! Setiap tenda terdiri dari dua kompartemen besar, satu berupa foyer untuk menyimpan barang, sedangkan satu lagi untuk tidur. Terdapat lima buah kasur serta bantal dan selimut. And the coolest thing was… Ada banyak colokan! Hahahaha.

image

image

Begitu datang kami langsung disuguhi aneka gorengan tradisional dan bandrek hangat buatan sendiri. Ditambah pemandangan yang luar biasa, singkong goreng pun rasanya tak kalah lezat dibandingkan dengan tapas.

image

Usai check in dan sedikit bersosialisasi (I met Mahda & Anom there!) kami diberi dua pilihan: Trekking ke air terjun, atau river tubing. Mengingat saya sudah sering trekking ke air terjun, maka saya mengambil pilihan kedua. Dan sama sekali tak menyesal! Meskipun harus menuruni trek curam selama 30 menit, namun setibanya di lokasi rasa letih dan kantuk itu lenyap seketika. Sungai dengan air yang jernih benar-benar menyegarkan mata. Ban-ban yang akan kami tumpangi pun sudah berjajar rapi. Tim dari Rakata Adventure sangat terampil dan superhelpful membantu kami melalui berbagai rintangan. Saya tak menyangka river tubing akan seseru ini… Tadinya saya kira hanya sungai arus pelan seperti di Waterbom, tapi ternyata sungai berarus deras dan berbatu sama seperti yang digunakan untuk arung jeram. Apalagi suhu airnya hanya 9 derajat celcius. Woohoo!

image

Kembali ke campsite waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Kami hanya punya waktu dua jam untuk makan dan mandi sebelum menuju ke Villa Merah, venue tempat acara utama Float2Nature berlangsung. Letaknya ada di bukit sebelah, dan membutuhkan waktu setengah jam berjalan kaki menuju ke sana. Yup, we walked a lot! Pukul 17.30 saya dan teman-teman tiba di lokasi. So beautiful! Apalagi saat itu sudah memasuki waktu sunset. Panggung dibuat membelakangi hutan, sehingga kita bisa menikmati musik sekaligus alam Sukabumi yang indah.

image

Sempat terpotong oleh hujan selama 15 menit, pertunjukan Float sore hingga malam itu berjalan lancar. Penonton tak peduli dengan rumput yang basah dan udara yang menggigil (thanks to bandrek, coffee, and tea yang tersedia semalaman), semua ingin mendekat ke panggung. Duduk di rumput bersama teman-teman baru dari berbagai kota di Indonesia. Sesama floaters 🙂 Tak ubahnya paduan suara, hampir semua penonton ikut menyanyikan semua lagu yang dibawakan Float, termasuk saat Meng sang vokalis mendendangkan lagu milik Slank (Terbunuh Sepi), The Beatles (Blackbird dan Lucy in The Sky with Diamond), sampai Guruh Soekarnoputra (Sendiri). Dan seperti sebelum-sebelumnya, saya tetap merinding setiap lagu Sementara, Stupido Ritmo, dan Pulang dibawakan. Sempat juga berkaca-kaca. Ingin tahu sebesar apa rasa suka saya dengan band yang satu ini? Saya memiliki tato lirik Stupido Ritmo di ribs kiri saya 🙂 Anyway, para personel Float pandai sekali menghangatkan suasana dan berkomunikasi dengan para penggemarnya. Komentar-komentar jenaka dan blak-blakan selalu diselipkan di sela lagu. Saya yang duduk bersama penonton lain merasa seperti sedang nongkrong di warung kopi sambil nyanyi-nyanyi dengan gitar. Tak ada batas formalitas antara artis dan penggemar.  Mungkin itu yang membuat penggemar Float tiap tahun bertambah dan tetap setia meski band ini hanya punya satu album mini (No Dream land) dan satu album soundtrack (Tiga Hari Untuk Selamanya) sejak berdiri sembilan tahun lalu.

image

image

Dua jam kemudian aksi Float pun berakhir, ditandai dengan suara saya yang sedikit habis karena ikut berteriak-teriak dari dalam hati, hahaha… Tampil berikutnya adalah Payung Teduh. Ini menarik, karena dalam promo Float2Nature tak disebutkan bahwa akan ada pengisi acara lain hingga beberapa hari sebelum hari-H. Such a sweet surprise, khususnya buat saya. Karena album mereka adalah playlist ninabobo saya hampir setiap malam. Vokal yang dalam, lirik puitis, manis dan sedikit naif, serta irama yang adem membuat selalu sukses untuk membuat saya terlena. Mereka tampil membawakan empat buah lagu, termasuk favorit saya: Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan, serta Resah. Sama seperti penampil sebelumnya, kebanyakan penonton juga cukup familiar dengan lagu-lagu Payung Teduh sehingga mereka juga ikut bernyanyi bersama.

image

Berikutnya hadir di atas panggung adalah duo Banda Neira. Sudah hampir setahun saya mem-follow soundcloud duo quirky ini. Di Atas Kapal Kertas adalah feel good song. Seperti semangkuk sup hangat saat kita sedang flu. Tak disangka, akhirnya berkesempatan menyaksikan mereka tampil live. And I have to say that Rara’s voice is way better live than in the album. Kalau di album suaranya sangat rapi dan polished, sedangkan saat live lebih husky dan raw. Jauh lebih berkarakter. Cute couple ini juga membawakan sekitar empat lagu, termasuk interpretasi mereka atas lagu Surrender milik Float yang dibawakan dengan lebih ringan dan playful.

image

Pukul 11 malam pertunjukan musik  ini pun berakhir. Dan kami harus kembali ke tenda untuk beristirahat, karena besok masih ada aktivitas lain yang harus dilakukan. And I can assure you I slept with a big smile that night  🙂

image

Seperti yang saya tulis di postingan sebelumnya, AKHIRNYA saya untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Negeri Gajah Putih, tepatnya pada tanggal 18 – 20 Juli 2013 berkat undangan Tourism Authority of Thailand (TAT). Yeap, dalam rangka kampanye pariwisata terbarunya yang bertajuk “Find Your Fabulous”, TAT mengundang beberapa media dan blogger dari AS dan berbagai negara ASEAN untuk memperkenalkan Thailand sebagai destinasi premier untuk medical dan wellness. Dari Indonesia hanya saya dan seorang rekan media online yang diundang. Tentu saja kunjungan ke Bangkok ini amat saya tunggu-tunggu, meskipun karena berstatus undangan, maka saya sangat terikat pada itinerary yang mereka buat. Hasilnya, jadi tak banyak destinasi wisata (bahkan tak ada) yang bisa saya kunjungi. But that’s okay, saya akan kembali lagi hanya untuk berjalan-jalan. So here’s my first visit to Bangkok!

Day 1

Garuda Indonesia yang saya tumpangi mendarat di Bandara Suvarnabhumi pada pukul 14.00. Cuaca begitu berawan. Oleh LO lokal yang bernama Get, saya dan rekan langsung dibawa ke hotel tempat kami menginap, Sofitel So Bangkok. Hotel mewah berbintang lima (baru berusia satu tahun) yang terletak antara Silom dan Sathorn ini sangat unik, karena satu dari lima perancangnya adalah fashion designer papan atas Prancis, Christian Lacroix. Ia tak hanya mendesain area Club Signature, tapi juga seragam staff hotel. Karena kami tiba sore hari, praktis jadwal hari ini hanya check in dan welcome dinner di Blue Elephant. Malam harinya, saya sempat berbelanja di Asiatique The Riverfront – an expansive open-air mall with river views and a cutting-edge ‘festival market and living museum’ concept. Meskipun tampilannya mewah, tapi harga barang yang dijual di sini murah, katanya tak jauh beda dengan Catuchak atau Pratunam yang memang terkenal murah. Well, terbukti sih. Kebetulan saya lupa membawa duit dan hanya membawa 1000 Baht (sekitar Rp340.000,-), tapi dengan uang sebesar itu saya bisa membawa pulang sebuah backpack, tiga buah kaus, lampu tidur, dan banyak sekali oleh-oleh.

ImageKamar saya berada di lantai 19, di area Woods, dan menghadap langsung ke Lumphini Park.

Image

Nomor kamar yang sangat kreatif.

Image

Infinity Pool (atas) dan Park Society (bawah) at Sofitel So Bangkok.

Image

Park Lobby di lantai 9 (atas). Seragam bernuansa tradisional yang didesain langsung oleh Christian Lacroix dengan bahan Thai silk (bawah).

Image

Gate masuk yang bernuansa port (atas kiri). Alley yang mirip Paris Van Java (atas kanan, tengah kiri). Menikmati perahu tradisional yang berlalu lalang di sungai (tengah kanan). Deretan cafe dan resto di tepi sungai (bawah kiri). Festival makanan Ramadan (bawah kanan).

Day 2

Saya bangun pagi sekali hari ini. Mungkin karena excited akan memulai aktivitas di Bangkok. Begitu membuka jendela, saya langsung disambut dengan pemandangan Lumphini Park dan Kota Bangkok yang disinari matahari pagi. Penasaran dengan taman terbesar di Bangkok ini, jam 6.30 pagi saya langsung menyeberang ke sana. Luar biasa melihat betapa rapi dan bersihnya taman ini. Didukung fasilitas-fasilitas olahraga gratis, banyak sekali warga kota yang memanfaatkan taman ini untuk berbagai aktivitas.

Image

Image

Petualang “Find your fabulous” dimulai hari ini. Sejak malam sebelumnya saya sudah diwanti-wanti agar tak boleh sarapan atau makan apapun, karena di Holistic Medical Centre (HMC), selain pemeriksaan MRIT (Molecular Resonance Imaging Technology), Live Blood Analysis, dan ALCAT (Food and Chemical Sensitivity Tests), saya juga akan mendapatkan Colon Hydrotherapy untuk membersihkan lambung dan usus saya sampai bersih. Katanya, semua tes gratis yang saya peroleh ini bernilai setidaknya Rp15.000.000,- saja. WOW!

Image

Dari HMC saya langsung dibawa menuju APEX Profound Beauty, sebuah klinik kecantikan terbesar di Thailand. Di sini saya mendapatkan perawatan microdermabrasi, yaitu “pengamplasan” wajah menggunakan berlian untuk membuang sel kulit mati. Benar saja, sejam kemudian wajah saya langsung terlihat lebih cerah.

Malam harinya, acara puncak launching Find Your Fabulous diadakan di ballroom Sofitel So Bangkok. Acara ini berlangsung cukup mewah, karpet merah, ratusan awak media, serta belasan selebriti lokal hadir di launching ini.

Image

Interview dengan para dokter dari berbagai klinik kesehatan dan kecantikan (atas). Peluncuran resmi oleh Direktur TAT (tengah kiri). Dua hunks yang menyambut undangan di red carpet (tengah kanan). Selebriti lokal yang dipilih sebagai ikon Find Your Fabulous (bawah).

Begitu acara selesai pukul 21.00, saya langsung bergegas kembali ke kamar, mengganti pakaian dengan yang lebih santai dan nyaman, dan memulai kebiasaan saya setiap mendatangi kota yang baru: Menyusuri kota seorang diri dengan berjalan kaki. Setelah 30 menit berjalan, tibalah saya di Silom Street yang sangat ramai oleh pedagang kaki lima. Dimulailah petualangan kuliner saya (dan berbelanja lagi tentunya). Tahu sendiri kan reputasi jajanan kaki lima di Bangkok? It’s a MUST!

Image

Ayam goreng tradisional (atas kiri). Sticky rice with mango <– always be my favorite (atas kanan). Chicken rice (bawah).

Day 3

Final day (hiks!). Karena kemarin dilarang sarapan, hari ini saya tak ingin melewatkan sarapan di hotel (Yah, selama di Bangkok saya tidak berpuasa). Bahkan saya sampai menjajal dua tempat sarapan berbeda di hotel: Red Oven (view ke Lumphini Park) dan Club Signature (view ke Sathorn – khusus tamu VIP).

Image

View Sathorn di Club Signature (kiri). View taman kota di Red Oven (kanan).

Image

Club Signature yang dirancang oleh Christian Lacroix.

Image

Sarapan sehat tapi kalap.

Hari ini masih ada jadwal perawatan terakhir sebelum terbang kembali ke Jakarta, yaitu di Divana Virtue Spa & Medical, yang baru-baru ini memenangkan penghargaan Best Luxurious Day Spa 2013 dari World Luxury Spa. Dimulai dengan perawatan “kecantikan” Oxydermabration dan Mesotherapy yang terletak di sayap kiri bangunan bergaya kolonial Inggris, saya lalu berkesempatan mencoba hot stone massage di spa yang terletak di sayap kanan.  IT WAS FABULOUS! Nasehat terbaik yang saya dapatkan dari pemilik Divana, “Jam biologis yang teratur membuat kita tetap awet muda. Paling ideal adalah tidur dari jam 10 sampai 4 pagi.” 

Image

Divana Medical.

Image

Divana Spa.

Image

Buah tangan cantik dari Divana.

As you can see, tidak banyak tempat yang bisa saya datangi dalam kunjungan kali ini.  Tapi bisa dipastikan bahwa saya akan kembali lagi ke Bangkok untuk berlibur layaknya turis dan difoto di depan pagoda yang besar.

Image

Never underestimate the power of dream. Saya termasuk orang yang tidak banyak berangan-angan, ataupun ambisius. Namun bukan cuma sekali, tapi sering saya mengalami “keajaiban” mimpi. Dulu, ketika SMA, saya secara spesifik memiliki mimpi untuk bekerja sebagai editor di sebuah majalah lifestyle internasional. Look at me now. Dan yang terjadi baru-baru ini, mimpi telah membawa saya terbang ke Negeri Gajah Putih. Bahkan bisa dibilang mimpi yang satu ini terwujud dengan instan.

Suatu malam, pukul dua pagi, saya berbincang-bincang dengan teman yang juga penulis novel, Alvin, di sebuah coffee house di bilangan Sarinah. Kebetulan dua bulan sebelumnya ia baru saja berlibur di Thailand, jadi saya memintanya untuk menceritakan pengalamannya di sana. Terkagum-kagum, saya hanya berkomentar singkat, “Gw belom pernah lho ke Thailand. Kayaknya semua orang udah pada ke sana. Pengen banget deh.” Dalam perjalanan pulang, pikiran berlibur di Bangkok langsung memenuhi kepala saya. “Pokoknya besok harus hunting tiket murah ke sana!” ujar saya dalam hati.

image

Keesokan harinya, sedikit kesiangan as always, saya tiba di kantor dengan tergesa-gesa dan masih kegerahan –maklum berangkat ke kantor dengan berjalan kaki. Belum lama menaruh tas, duduk, menyalakan komputer, dan kipas-kipas, tiba-tiba dari ruangannya managing editor saya berteriak, “Ron, sini bentar dong!” DHEG!! Perasaan saya langsung tidak enak. Jarang-jarang dia memanggil saya ke ruangannya. Dan biasanya kalau dia memanggil tandanya ada sesuatu yang harus saya bereskan, entah menagih artikel yang belum dilayout, mengingatkan saya akan suatu tugas, atau lainnya.

“Lo kenapa, kok tegang banget kayaknya?” tanyanya begitu saya berdiridi dekat mejanya.

“Ah, nggak apa-apa kok. Tadi capek jalan buru-buru, jadi masih agak deg-degan,” jawab saya.

“Oh, kirain kenapa. Anywaaaaaay, lo minggu depan berangkat ke Bangkok ya. Ini ada undangan dari Tourism Authority Thailand. Pemotretan lo udah pada kelar kan?”

“Hah?? Serius??” tanya saya masih tak percaya.

“Iyalah, masa boongan. Ntar e-mail invitationnya gw forward, langsung follow up aja. Have fun in Bangkok! Kalo diliat dari itinerarynya sih lo bakal sering body treatment.”

Setelah obrolan singkat itu berakhir saya langsung kembali ke meja kerja dengan sedikit tak percaya. E-mail langsung saya refresh beberapa kali hingga e-mail yang dimaksud muncul. Saya baca, dan… Oh my God, IT IS REAL! Dan kebetulan tanggalnya hanya berselang tiga hari dari tanggal ulang tahun saya. Saya pun menganggapnya sebagai hadiah ulang tahun yang luar biasa.

It’s unbelievable, kurang dari 24 jam mimpi saya untuk melihat Bangkok menjadi kenyataan. Semakin yakin pula saya bahwa dreams do come true. Benar juga teori The Secret, if you really want something so bad (even if it sounds almost impossible), just keep it in your mind. You’ll never know what will happen next.

Ingin tahu apa mimpi saya selanjutnya? LONDON.

image

Di suata masa di abad ke-14, di salah satu sudut Aizuwakamatsu ditemukanlah sebuah mata air yang dipercaya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Pada tahun 1432, penguasa wilayah Aizu, Morihisa Ashina memutuskan untuk membangun sebuah vila di lokasi tersebut karena dianggap suci. Itulah sejarah Oyakuen. Sempat terbengkalai, di tahun 1696 vila ini direnovasi besar-besaran oleh penguasa saat itu dan dijadikan sebagai taman bergaya khas wilayah Tohoku yang menghadirkan aneka tumbuh-tumbuhan obat dan puluhan jenis ginseng – yang kelak menjadi speciality kota Aizu.

20130409-162915.jpg

Kini, tak hanya sebagai pusat herbal, taman ini juga menjadi salah satu destinasi utama di Aizuwakamatsu. Salah satu aktivitas yang menarik di kompleks ini adalah upacara minum teh khas Jepang sambil menikmati pemandangan taman dan kolam yang sangat indah. Hanya membayar 1000Yen, pengunjung bisa merasakan pengalaman mengikuti prosesi minum matcha (teh) di Ochaya Goten selama kurang lebih 40 menit. Apa saja yang didapatkan selama 40 menit itu? Well, mulai dari sejarah upacara minum teh, cara membuat teh, cara meminum teh (really??), dan do’s and don’ts lainnya.

20130409-162920.jpg

20130409-162925.jpg

Oh iya, upacara minum teh di Oyakuen berhubungan erat dengan Tsuruga-jo Castle. Di pertengahan abad ke-16, Rikyu Sen – tea master di Oyakuen – menyempurnakan upacara minum teh. He’s considered as the best tea master in Japan at that time. Lalu di tahun 1591, penguasa Hideyoshi Toyotomi memerintahkannya untuk bunuh diri. Sebagai ksatria, ia pun menuruti perintah tersebut. Lord Aizu, Ujisato Gamo, lalu menyediakan perlindungan bagi putra Rikyu, Shoan, dan membangun Rinkaku di Tsuruga-jo Castle. Kelak Shoan menjadi seorang tea-master di Tsuruga-jo.

Di kompleks Oyakuen ini juga terdapat Choyokaku, bangunan yang ditempati oleh Putri Setsuko – warga setempat yang diperistri keluarga kerajaan. Aslinya, bangunan bertingkat tiga ini terletak di distrik Higashiyama (masih di kota yang sama). It was moved to its present location in 1973.

20130409-162931.jpg

HIVegan

HIV positive vegan in search of self-discovery.

Me and My Life

a dreamer, writer wanna be, and general practitioner

writing under influence

mostly hormones and occasional alcoholic beverages

gemintangberdenyar

easy to break, but not impossible to repair

withinthedarksea

A topnotch WordPress.com site

mini perspective

"dare to be trapped?" - @inggaharya

Nonikhairani

Once You Make a Decision, The universe Conspires To Make It Happen

Shandya Learns Life

... and many other particular things.

Still Simply as The Bimz

make words not wars

Tales From Motion Sickness

Just An Ordinary Confession of Typical Life Enthusiast

duaBadai

The alter ego of Disgiovery.com

Lost in Singlish Translation

I am here. Between Himalayas and Indian Ocean

Cheese and Choco's Sweet World

Cheese and Choco melt!

@ New Dream

Just Another Story

close2mrtj

...just like you, they long to be, close to me...

thekleinebeer

undeleted thoughts

iThink

use ur brain! ur muscle too..

The Doodle Bear

when words are not enough

SAZQUEEN

Let me tell you some stories!