(Photo courtesy: Associated Press)

Jakarta banjir tentu bukan berita baru. Bencana ini sebetulnya sudah diduga akan datang setiap awal tahun. I dunno, mungkin ini cara alam untuk membersihkan Jakarta dari semua yang kotor-kotor sebelum bisa menjalani 12 bulan ke depan. Bagi saya, yang selama ini hanya melihat banjir Jakarta melalui televisi,  kejadian di tanggal 17 Januari 2013 kemarin adalah a whole new experience. Karena saya merasakan akibatnya secara langsung di depan mata, di antara jari-jari kaki, di perut, dan di ponsel kesayangan (ya, ponsel saya tercinta kemarin mendadak layarnya tewas karena terkena tetesan air hujan).

For the first time ever, saya pergi bekerja mengenakan celana pendek dan sandal jepit, karena jalanan di depan kosan saya di Kebon Kacang sudah tergenang air hingga lutut. Dan saya bahkan tak mau membayangkan dari mana saja air kotor itu berasal. Hal terakhir yang saya ingat adalah betapa nyenyaknya tidur saya di malam sebelumnya, karena ditemani suara hujan dan petir. I know it’s weird, but for me, those combination is kinda comforting.

Dalam perjalanan, saya melihat betapa Jalan MH. Thamrin yang dihiasi mall-mall mewah, hotel-hotel bintang lima, perkantoran megah, dan landmark-landmark kebanggaan Jakarta, sudah tidak bisa dibedakan lagi dengan Sungai Gangga di India. Aliran air dari tanggul Latuharhari yang jebol telah mengubah jalan prestigious (dan pretentious) itu menjadi sebuah kali, dengan air deras berwarna berwarna coklat setinggi lutut. Seorang gadis kecil berseragam sekolah tampak berpegangan pada temannya agar tak terbawa arus, wajahnya seperti ingin menangis.

Tiba di kantor pun hanya tiga orang saja yang masuk, termasuk si bos. Dari tiga lantai, hanya ada kami bertiga. Semua orang tampaknya sibuk dengan bencananya masing-masing. Dari yang rumahnya kebanjiran, terjebak di jalan, dan lain-lain. Setelah makan siang, akhirnya si bos memperbolehkan kami pulang.  Astaghfirullah, banjir di depan kosan saya sudah naik mencapai pinggang. Mau tidak mau saya pun harus menerobosnya. The water was so disgusting :(  Untungnya rumah kos saya lebih tinggi dari jalan, jadi semua penghuninya selamat. Saya menyesal tidak membeli stock makanan. I hadnt seen it coming, dan sudah terlambat untuk berbalik. Hujan mulai turun dengan deras lagi. Akhirnya seharian saya di kamar, ditemani internet, televisi, dan sekaleng biskuit jahe dan kelapa yang saya irit-irit makannya. Sejenak saya merasa bak Pi Patel dalam film Life of Pi. Tanpa harimau Benggala.

Sempat tertidur, malam hari sekitar jam delapan saya terbangun. Di luar masih terdengar suara hujan. Saya ke luar dari kamar dan melongok dari balkon kamar saya di lantai tiga. Suasananya menyeramkan. Gelap, yang tampak hanya pantulan cahaya kilat di permukaan air yang berwarna hitam. Sepi sekali. Sejauh mata memandang tak ada tanda-tanda kehidupan. Bahkan dari kejauhan, mall yang katanya termegah di ibukota pun tampak mati. Dan gawatnya, perut saya mulai berteriak kelaparan. Keroncongan. Ransum biskuit  hampir menipis. Dan saya mulai melirik obat anti mabuk yang tergeletak di meja, agar malam ini bisa tidur dengan cepat dan melupakan semua kejadian ini. No. I didn’t take it.

Suddenly I missed my mom. Kangen masakan rumah. Kangen soto ayam dan palumarra tulang superpedas buatannya yang pasti lezat untuk dinikmati di cuaca seperti ini. I felt the urge to cry. I wanted my mommy. I did.  Hahaha… Anak kos sekali memang. But then, saya melihat siaran breaking news di televisi. Tertegun melihat betapa banjir kali ini telah memporak-porandakan segenap aspek kehidupan warga Jakarta. Ada yang kehilangan rumah, dan harus tinggal di penampungan massal yang dingin dan kotor, ada yang meninggal karena menggigil, ada yang terjebak dan hilang di basement, dan banyak lagi. Subhanallah… Saya langsung merasa beruntung, karena satu-satunya yang “porak poranda” gara-gara banjir besar ini adalah perut saya. Saya masih bisa tidur di kasur empuk dengan selimut hangat, menikmati hiburan di televisi, dan mengganjal perut dengan biskuit yang lezat. Sementara yang lain harus tidur berdesakan, mengharap makanan dari belas kasih orang, dan kedinginan. Oh iya, saya juga melihat ada satu keluarga menjadikan jembatan penyeberangan di depan EX sebagai “rumah” baru mereka. And there’s a baby among them :(

Baru-baru saja –  beberapa jam yang lalu – saya mendapati bahwa seseorang yang tidak saya kenal bernasib malang sekali akibat banjir kali ini. Sudah jatuh tertimpa tangga, mungkin tepat menggambarkan kondisinya. Selain kebanjiran parah, baru saja rumahnya mengalami kebakaran akibat arus pendek. Hebatnya, ia sama sekali tidak mengeluh. Malah tak henti-hentinya menganggap cobaan ini sebagai cobaan dari Tuhan yang patut disyukuri. I don’t know what else to say. Mata saya sempat berkaca-kaca membaca blognya.

I know it’s hard for everyone guys. But like it or not, we have to face it. Masih banyak orang yang jauh kurang beruntung dari kita, dan mereka sama sekali tak meratapi nasib buruk (Well, mungkin mereka meratapi, tapi tidak diumbar-umbar). Perjalanan melewati bencana ini masih panjang (diprediksi akan ada banjir lebih hebat lagi sampai tanggal 27 Februari 2013). Please, jangan menyerah sekarang. Just prepare for the worst, be well informed, and keep praying. Keep supporting each other. Godspeed!

Image

When live gives you lemon, just smile and squeeze it hard!

About these ads